Komunitas Perusahaan
Kebijakan dan sasaran community relations tidak ditentukan berdasarkan prinsip-prinsip idealis. Mereka terjadi dengan melihat dan menilai kebutuhan organisasi, sumber daya, dan keahlian dalam organisasi pada satu sisi, serta kebutuhan dan harapan komunitas di sisi lainnya. Sebelum kebijakan dan sasaran yang penting dikembangkan, organisasi harus mengenal komunitasnya.
Walaupun community relations biasanya menekankan komunikasi dan organisasi ke komunitas, keberhasilan usaha ini bersandar pada pengetahuan komunikator tentang audiensinya. Setiap komunitas memiliki publiknya sendiri dan tidak ada di antara dua publik ini yang persis sama. Sebagai contoh, daerah Detroit, Michigan dihuni populasi Arab terbesar di USA. Banyak pekerja teknologi yang tinggal di San Francisco adalah orang Asia dan ada orang yang memperkirakan bahwa lebih dari 50% dari semua anak kelas satu di sistem sekolah umum Texas adalah keturunan Hispanik.
Namun, pengetahuan nyata tentang komunitas melampaui data demografis, etnik, geografis, dan ekonomi standar. “Untuk membangun komunitas, Anda harus berpartisipasi dalam komunitas tersebut”,ungkap Annie Heckenberg dari GPTMC, Perusahaan Pemasaran Wisata Philadelphia. Pihak GPTMC lebih memilih menggunakan blog yang disebut dengan “uwishunu” (you wish you know) daripada situs Web untuk mendorong pelestarian asset lokal, seperti restoran kota, kehidupan malam, seni, musik, dan kegiatan lainnya.
Program community relations yang solid harus dibangun atas jawaban dari pertanyaan seperti berikut.
1. Bagaimana struktur komunitas?
Apakah penduduknya homogen atau heterogen?
Apa bentuk kepemimpinan formal dan nonformalnya?
Apa struktur nilai yang paling berpengaruh?
Bagaimana struktur saluran komunikasinya?
2 Apa kekuatan dan kelemahan komunitas?
Apa masalah khusus yang dihadapi komunitas?
Bagaimana situasi ekonomi lokal di komunitas?
Bagaimana situasi politik lokal?
Apa saja sumber daya unik yang dimiliki komunitas (manusia, budaya, alam)?
3. Apa yang diketahui dan dirasakan komunita tentang organisasi?
Apakah masyarakat sekitar memahami produk, jasa, praktik, dan kebijakan organisasi?
Apa yang dirasakan komunitas tentang organisasi?
Apakah ada kesalahpahaman komunitas tentang organisasi?
Apa harapan komunitas terkait aktivitas organisasi?
Jawaban terhadap pertanyaan di atas tidak begitu saja diperoleh dengan mudah. Apalagi, jawabanya jadi berubah dari waktu ke waktu sehingga dibutuhkan pemantauan yang intens. Informasi berharga dapat diperoleh melalui beberapa cara. Laporan Sensus AS membuat informasi berharga tentang komunitas dan orang yang tinggal di sana. Banyak organisasi melakukan riset survei untuk mencari tahu pengetahuan, sikap dan persepsi komunitas. Organisasi polling professional sering dipakai dan dibayar untuk menyediakan jasa seperti ini. Hubungan dekat dengan pimpinan komunitas adalah sumber informasi yang sangat penting. Para pemimpin profesional, agama, dan persaudaraan; pemimpin politik; serta editor media, umumnya dapat dijangkau melalui keanggotaan pada organisasi lokal atau melalui pertemuan dengan tatap muka dalam berbagai kegiatan. Beberapa organisasi membuat usaha seperti itu menjadi formal dengan memasukkan pimpinan komunitas dalam gugus tugas mereka atau ke dalam komite yang berurusan dengan masalah-masalah komitenya.
Sumber buku :
(Public Relations Profesi dan Praktik, Dan Lattimore, Otis Baskin, Suzette T.Heiman, Elizabeth L.Toth. hal. 259-260 )



